Senin, 31 Mei 2010

Edward Hutabarat



Edward Hutabarat


Kalau mau tahu siapakah orang yang bertanggung jawab atas terjadinya demam 'mendadak Batik' di Indonesia pada periode 2008 kemarin, jawabannya adalah Edward Hutabarat. Beliau yang memperkenalkan kembali Batik sebagai pakaian yang casual, modern dan tidak kuno. Ditangan dingin beliaulah Batik yang tadinya identik dengan baju kondangan, baju orang tua, Reborn menjadi sesuatu yang disukai anak muda dan dapat dipakai bukan hanya saat kondangan. Edo, begitu sapaan akrabnya (hehe, mulai sok akrab) tak pernah lelah mengolah motif-motif Batik, baik yang kuno maupun yang tidak, dan diaplikasikan kebahan-bahan yang tidak konvensional. Jika biasanya Batik dapat kita temukan dibahan-bahan katun dan sutra saja, kini sekarang Batik ada dalam bentuk bahan chiffon yang lebih pas dengan iklim Tropis di Indonesia. Melalui lini Part One by Edward Hutabarat, ia membawa Batik ke level yang lebih tinggi. Dan sekarangpun sudah bukan hal yang aneh lagi bila kita melihat perempuan muda berbalut mini dress Batik dengan motif mega mendung sambil menenteng tas keluaran Balenciaga terbaru dengan sepatu bersol merah Christian Louboutin.

Part One by Edward Hutabarat

Part One, Upper Ground Collection, model : Mariana Renata



Part One, The Ground Collection, model : Dian Sastrowardoyo


Sebenarnya masih ada lagi koleksi dari Part One by Edward Hutabarat ini, yaitu Backstage dan Lower Ground, yang masing-masing modelnya adalah Mariana Renata dan Izabel Jahya. Juga beberapa Fashion Spread untuk majalah Dewi dengan model Dian Sastrowardoyo dan Maria Agnes. Beliau juga mengeluarkan 4 buku yang berisikan koleksi-koleksi dari Part One by Edward Hutabarat, yang secara eksklusif semua isi buku ini diambil gambarnya oleh salah satu Fotografer Indonesia favorit saya, Davi Linggar. Dan belum lama ini mas Edo juga merancang Kebaya akad nikah untuk Dian Sastrowardoyo. I Love Edward Hutabarat!

Minggu, 30 Mei 2010

Many form of Fashion


all black edition, Italian Vogue

Fashion atau dunia mode adalah sebuah dunia dimana berbagai macam orang dari berbagai macam negara dan etnis, berkumpul, berkolaborasi, berkarya dan menghasilkan benda-benda mode indah yang nantinya akan dibeli dan dipakai oleh orang dari berbagai kalangan pula. Namun bagaimana jika dunia mode yang kita cintai ini menimbulkan sebuah issue tertentu, sebut saja masalah warna kulit, etnis dan ukuran tubuh. Model berkulit hitam kadang masih mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dalam dunia fashion, entah itu masalah tampilnya mereka di fashion spreads atau editorial, digunakannya mereka sebagai model dalam ad campaign rumah mode atau fashion designer tertentu hingga absennya model-model kulit hitam pada runways ataupun fashion week.


naomi campbell by steve meisil on Italian Vogue, All black Edition

Fashion Photographer legendaris Steven Meisel mempunyai teori sendiri akan absennya para model kulit hitam dari panggung runway. "Mungkin para Perancang Busana, mungkin juga karena para Fashion Editor" katanya. "Mereka orang-orang yang berpengaruh dan juga para pengiklan. Saya telah meminta kepada klien saya 'bisakah kita memakai model berkulit hitam?' Mereka berkata, Tidak! " Perhatiannya adalah bahwa para konsumen akan menolak produk tersebut, Katanya. "It all comes down to money".

liya kebede, Tyra Banks, Toccara Jones in all black edition, Italian Vogue


Namun masih ada beberapa majalah high fashion seperti Vogue misalnya yang masih saja bersinggungan dengan hal-hal yg sensitif tersebut. Pada tahun 2008 saat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang pada saat itu masih senator, sedang tenar-tenarnya dan menjadi sebuah atmosfir dan harapan baru bagi dunia Global, fashion pun terpengaruh dengan peristiwa ini. Maka saat itu Editor in Chief Italian Vogue, Franca Sozzani dan Steven Meisel berkolaborasi dalam sebuah proyek besar bagi dunia fashion global untuk membuat edisi khusus yang didedikasikan bagi para model kulit hitam. Terinspirasi dari kampanye Barack Obama dan kenyataan bahwa berkurangnya keberagaman warna kulit dipanggung peragaan busana dan Meisel yang frustasi dengan penolakan model-model kulit hitam oleh industri ini. Maka hadirlah 4 Supermodel kulit hitam yaitu Liya Kebede, Sessilee Lopez, Jourdan Dunn dan Naomi Campbell dalam Cover Vogue edisi Italia ini. Dalam edisi itu selain nama-nama diatas hadir juga Tyra banks, Iman, Chanel Iman, Alek Wek, Alva Chin, Noemie Lenoir, Ubah, Veronica Webb, Arlenis Sosa, Gail O'neill, Karen Alexander, dan Toccara Jones alumni America's Next Top Model cycle 3 yang selain mewakili model berkulit hitam tapi juga mewakili plus sized model.

plus size model

Setelah hadir dengan issue yang seolah-olah mendukung dan menghormati keberadaan model kulit hitam oleh Italian Vogue, lagi-lagi timbul sebuah polemik dalam dunia Fashion dengan terbitnya Edisi bulan oktober 2009 dari French/Parisian Vogue. Dalam edisi yang memasang wajah Iconic Supermodel Kate Moss itu dalam edisi yang didedikasikan bagi para Top model dunia fashion dari masa ke masa dan kenyataan yang terjadi adalah edisi itu menjadi edisi yang colorless dan Zero black model. Dan banyak orang menyebutnya sebagai All white issue dari French Vogue. Hal ini juga di picu oleh adanya halaman fashion spreads/editorial yang menampilkan Supermodel kesayangan French Vogue Editor in Chief ,Carrine Roitfiled, yaitu Lara Stone.

from left to right : special TOP MODELS french/parisian Vogue cover, Lara Stone Blackface

from left to right : supermodel Lara Stone, Lara stone Blackface on French Vogue

Yang mejadi Kontroversi adalah kehadiran Lara Stone dalam editorial itu yang 'dijadikan' model berkulit hitam, mungkin hal ini tidak akan menjadi besar seandainya si mbak lara Stone ini adalah memang model kulit hitam, namun pada kenyataannya Lara Stone adalah model kulit putih yang seluruh tubuhnya di cat dan ditampilkan sebagai model kulit hitam. Maka muncullah Blackface in French Vogue Controversy, yang membuat dunia Fashion, khususnya Vogue yang seolah-olah membuat statement yang ofensif terhadap model berkulit hitam. Sudah tawaran jalan di runway sedikit begitu pula dengan ad campaign, ini kok spreads/editorial yang seharusnya bisa dilakukan oleh model kulit hitam sendiri dalam menampilkan etnisnya, malah diberikan kepada model kulit putih. Banyak dukungan juga cacian atas apa yang dilakukan oleh Vogue, ada yang mengatakannya sebagai 'bentuk kreativitas yang ingin ditampilkan oleh Vogue' dan yang kontra mengatakan 'Vogue rasis terhadap model dengan kulit berwarna'. Sebagai penikmat dan pemerhati fashion dan visual, menurut saya sah-sah saja jika itu dikatakan sebagai bentuk kreativitas yang ingin ditampilkan Vogue, namun sebagai orang Asia yang notabene-nya masih menjadi kaum minoritas di industri Fashion global, rasanya kurang bijak jika majalah sebesar Vogue yang digadang-gadangkan sebagai 'the bible of fashion world', menyakiti sebagian 'umatnya'. Seharusnya fashion sebagai multi-billion dollar business dan juga sebagai penyokong gaya hidup dan kebutuhan semua orang, tidak mendiskriminasi warna kulit, etnis dan ukuran tubuh tertentu.

Lalu mengenai colorless yang terjadi pada panggung peragaan busana, ada yang menunjuk show Miuccia Prada yang menjadi biang keroknya. Karena hampir 10 tahun sejak 1997-2008 model kulit hitam yang terakhir berjalan untuk show Prada adalah Naomi Campbell, sejak saat itu Prada tidak pernah menampilkan model berkulit hitam dalam setiap presentasi koleksinya, Zero Black Model. Miuccia Prada terkenal akan kecintaannya terhadap model-model berwajah dingin khas Eropa Timur seperti Sasha Pivovarova (model favorit saya). Prada yang sering kali menjadi acuan trend, disalahkan atas terjadinya zero black model pada pangung peragaan busana. Sampai pada tahun 2008 Miuccia Prada melakukan gebrakan dengan menampilkan Jourdan Dunn, satu-satunya model kulit hitam yang berlenggok di Peragaan Busana Prada untuk koleksi Fall/Winter 2008. Setelah itu ditahun ini Prada kembali menampilkan 2 model kulit hitam Rose Cordero dan Joan Smalls yang berjalan di runway Prada untuk koleksi Fall 2010. Juga hadirnya Doutzen Kroes, model berkebangsaan Belanda yang bukan 0/zero sized, yang pernah mengatakan "I don't do runway shows, because I don't fit the sample size", yang juga berjalan di runway Prada Fall 2010.

from left to right : Rose Cordero, Joan Smalls and Doutzen Kroes on Prada Runway Fall 2010

What About Asian?


from left to right : Liu Wen, Tao Okamoto, Lakshmi Menon

Kita telah banyak mendengar diskriminasi terhadap model kulit hitam, lalu apa kabar dengan pelaku industri Fashion global yang berasal dari Asia, atau si kulit kuning? Rasanya, nasib model-model dari Asia lebih beruntung, sepertinya, karena belum ada berita beasar mengenai diskriminasi terhadap model dari Asia. Dan orang Asia pun memiliki kontribusi yang bisa dikatakan lumayan besar bagi industri Fashion global. Ada Devon Aoki, Liu Wen, Lakshmi Menon dan Tao Okamoto yang bisa dikategorikan sebagai Top Model. Lalu juga banyak Fashion Designer yang berjaya dikancah internasional seperti Johji Yamamoto, Rei Kawakubo dengan Comme Des Garcons, Issey Miyake, Vera Wang, Anna Sui, Alexander Wang, Thakoon Panicghul, Doo.ri, Phillip Lim dan masih banyak lagi. Di bidang media ada Erika Kurihara Fashion Editor I-D magazine (british based magazine) dan masih banyak lagi dari Asia yang akan menjadi 'the next big thing in Fashion World'. Namun para etnis minoritas lebih berkembang dan maju karirnya di Amerika Serikat ketimbang di Eropa.

from left to right : Vera Wang, Alexander Wang, Erika Kurihara

from left to right : takhoon panicghul, Anna Sui, Doo.ri


Our Local Scene?

Raden Roro by Liquica Anggraini


Lalu bagaimana dengan Indonesia? Walaupun ada beberapa Fashion Designer Indonesia yang mulai go international dan juga Young Fashion Designer yang belajar di Luar Negeri seperti Paris, Milan dan New York yang merintis karir disana, namun belum seberuntung Doo.ri atau Takhoon. Ada nama-nama seperti Liquica Anggraini yang merintis karir di New York yang designnya sudah dipakai oleh beberapa selebritis Hollywood. Untuk Fashion Designer muda yang masih merintis karir di Indonesia seperti Mel Ahyar, Nina Nikicio, Kleting Wigati dengan label KLE, Rama Dauhan dan Dana Maulana dengan label Danjyo/Hyoji, Stella Risa, Jeffrey Tan dan yang lainnya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan mereka, yaitu mengubah paradigma masyarakat Indonesia dalam melihat produk local fashion designer juga seharusnya pemerintah memberi tempat juga perhatian khusus bagi pelaku fashion lokal, karena industri ini juga banyak berkontribusi bagi devisa maupun pemberdayaan pengrajin, pengusaha tekstil dan retail lokal. Yang juga harus dijadikan catatan bagi para Local Fashion Designer adalah dengan membuat produk-produk berkualitas yang harganya lebih ramah dikantong konsumen dan tidak lagi menjadi terlalu eksklusif, sehingga nantinya para pecinta Fashion di Indonesia dapat membeli dan memakai produk-produk (X)SML daripada Zara atau Topshop, dan lebih mencintai Biyan atau Edward Hutabarat ketimbang Marc Jacobs.


Part One by Edward Hutabarat


with love

Trishatara Handayani



Sabtu, 22 Mei 2010

Read It!



(via Mesty Ariotedjo)




In a brief conversation, a man asked a woman he was pursuing the question:
"What kind of man are you looking for?"

She sat quietly for a moment before looking him in the eye & asking, 'Do
you really want to know?'
Reluctantly, he said,"Yes."

She began to expound"As a woman in this day & age, I am in a position to
ask a man what can you do for me that I can't do for myself?
I pay my own bills. I take care of my household without the help of any
man...or woman for that matter.
I am in the position to ask, 'What can you bring to the table?'"

The man looked at her. Clearly he thought that she was referring to money.

She quickly corrected his thought & stated, "I am not referring to money.
I need something more.
I need a man who is striving for excellence in every aspect of life."
He sat back in his chair, folded his arms, & asked her to explain.
She said, "I need someone who is striving for excellence mentally because I
need conversation & mental stimulation. I don't need a simple-minded man.

I need someone who is striving for excellence spiritually because I don't
need to be unequally yoked...believers mixed with unbelievers is a recipe
for disaster.

I need a man who is striving for excellence financially because I don't
need a financial burden.

I need someone who is sensitive enough to understand what I go through as a
woman, but strong enough to keep me grounded.

I need someone who has integrity in dealing with relationships. Lies and
game-playing are not my idea of a strong man.

I need a man who is family-oriented. One who can be the leader and
provider to the lives entrusted to him by God.

I need someone whom I can respect. In order to be submissive, I must
respect him.

I cannot be submissive to a man who isn't taking care of his business. I
have no problem being submissive...he just has to be worthy.

And by the way, I am not looking for him...He will find me. He will
recognize himself in me. Hey may not be able to explain the connection,
but he will always be drawn to me. God made woman to be a help-mate for
man. I can't help a man if he can't help himself."

When she finished her spill, she looked at him.

He sat there with a puzzled look on his face. He said,"You are asking a
lot."

She replied, "I'm worth a lot".

Rabu, 19 Mei 2010

Miumiu loves cat and bird!!


miuccia prada



left to right : super long braided hair, the cute long sleeve blouse and skirt with printed cats



left to right : towering platform, the dresses with printed cats and decorated


left to right : the models wearing all bird printed things

Again and again Miuccia Prada has turn something ordinary become an extraordinary things. In miumiu spring/summer collection, she feature the silhouette of a cute cats and birds printed on the entire collection, start from handbags, clutch, shoes, skirt, jumper, blouse and dresses. Came up with provocative pieces, featuring larger chest cutouts, nude mesh paneling and towering platform shoes. This collection is that all the latter detailing is hardly noticeable. Love the entire collection and wish I have one! *:D



the crowd from left to right : kate moss and patrick demarchelier, carrine roitfield (france vogue)