Minggu, 30 Mei 2010

Many form of Fashion


all black edition, Italian Vogue

Fashion atau dunia mode adalah sebuah dunia dimana berbagai macam orang dari berbagai macam negara dan etnis, berkumpul, berkolaborasi, berkarya dan menghasilkan benda-benda mode indah yang nantinya akan dibeli dan dipakai oleh orang dari berbagai kalangan pula. Namun bagaimana jika dunia mode yang kita cintai ini menimbulkan sebuah issue tertentu, sebut saja masalah warna kulit, etnis dan ukuran tubuh. Model berkulit hitam kadang masih mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dalam dunia fashion, entah itu masalah tampilnya mereka di fashion spreads atau editorial, digunakannya mereka sebagai model dalam ad campaign rumah mode atau fashion designer tertentu hingga absennya model-model kulit hitam pada runways ataupun fashion week.


naomi campbell by steve meisil on Italian Vogue, All black Edition

Fashion Photographer legendaris Steven Meisel mempunyai teori sendiri akan absennya para model kulit hitam dari panggung runway. "Mungkin para Perancang Busana, mungkin juga karena para Fashion Editor" katanya. "Mereka orang-orang yang berpengaruh dan juga para pengiklan. Saya telah meminta kepada klien saya 'bisakah kita memakai model berkulit hitam?' Mereka berkata, Tidak! " Perhatiannya adalah bahwa para konsumen akan menolak produk tersebut, Katanya. "It all comes down to money".

liya kebede, Tyra Banks, Toccara Jones in all black edition, Italian Vogue


Namun masih ada beberapa majalah high fashion seperti Vogue misalnya yang masih saja bersinggungan dengan hal-hal yg sensitif tersebut. Pada tahun 2008 saat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang pada saat itu masih senator, sedang tenar-tenarnya dan menjadi sebuah atmosfir dan harapan baru bagi dunia Global, fashion pun terpengaruh dengan peristiwa ini. Maka saat itu Editor in Chief Italian Vogue, Franca Sozzani dan Steven Meisel berkolaborasi dalam sebuah proyek besar bagi dunia fashion global untuk membuat edisi khusus yang didedikasikan bagi para model kulit hitam. Terinspirasi dari kampanye Barack Obama dan kenyataan bahwa berkurangnya keberagaman warna kulit dipanggung peragaan busana dan Meisel yang frustasi dengan penolakan model-model kulit hitam oleh industri ini. Maka hadirlah 4 Supermodel kulit hitam yaitu Liya Kebede, Sessilee Lopez, Jourdan Dunn dan Naomi Campbell dalam Cover Vogue edisi Italia ini. Dalam edisi itu selain nama-nama diatas hadir juga Tyra banks, Iman, Chanel Iman, Alek Wek, Alva Chin, Noemie Lenoir, Ubah, Veronica Webb, Arlenis Sosa, Gail O'neill, Karen Alexander, dan Toccara Jones alumni America's Next Top Model cycle 3 yang selain mewakili model berkulit hitam tapi juga mewakili plus sized model.

plus size model

Setelah hadir dengan issue yang seolah-olah mendukung dan menghormati keberadaan model kulit hitam oleh Italian Vogue, lagi-lagi timbul sebuah polemik dalam dunia Fashion dengan terbitnya Edisi bulan oktober 2009 dari French/Parisian Vogue. Dalam edisi yang memasang wajah Iconic Supermodel Kate Moss itu dalam edisi yang didedikasikan bagi para Top model dunia fashion dari masa ke masa dan kenyataan yang terjadi adalah edisi itu menjadi edisi yang colorless dan Zero black model. Dan banyak orang menyebutnya sebagai All white issue dari French Vogue. Hal ini juga di picu oleh adanya halaman fashion spreads/editorial yang menampilkan Supermodel kesayangan French Vogue Editor in Chief ,Carrine Roitfiled, yaitu Lara Stone.

from left to right : special TOP MODELS french/parisian Vogue cover, Lara Stone Blackface

from left to right : supermodel Lara Stone, Lara stone Blackface on French Vogue

Yang mejadi Kontroversi adalah kehadiran Lara Stone dalam editorial itu yang 'dijadikan' model berkulit hitam, mungkin hal ini tidak akan menjadi besar seandainya si mbak lara Stone ini adalah memang model kulit hitam, namun pada kenyataannya Lara Stone adalah model kulit putih yang seluruh tubuhnya di cat dan ditampilkan sebagai model kulit hitam. Maka muncullah Blackface in French Vogue Controversy, yang membuat dunia Fashion, khususnya Vogue yang seolah-olah membuat statement yang ofensif terhadap model berkulit hitam. Sudah tawaran jalan di runway sedikit begitu pula dengan ad campaign, ini kok spreads/editorial yang seharusnya bisa dilakukan oleh model kulit hitam sendiri dalam menampilkan etnisnya, malah diberikan kepada model kulit putih. Banyak dukungan juga cacian atas apa yang dilakukan oleh Vogue, ada yang mengatakannya sebagai 'bentuk kreativitas yang ingin ditampilkan oleh Vogue' dan yang kontra mengatakan 'Vogue rasis terhadap model dengan kulit berwarna'. Sebagai penikmat dan pemerhati fashion dan visual, menurut saya sah-sah saja jika itu dikatakan sebagai bentuk kreativitas yang ingin ditampilkan Vogue, namun sebagai orang Asia yang notabene-nya masih menjadi kaum minoritas di industri Fashion global, rasanya kurang bijak jika majalah sebesar Vogue yang digadang-gadangkan sebagai 'the bible of fashion world', menyakiti sebagian 'umatnya'. Seharusnya fashion sebagai multi-billion dollar business dan juga sebagai penyokong gaya hidup dan kebutuhan semua orang, tidak mendiskriminasi warna kulit, etnis dan ukuran tubuh tertentu.

Lalu mengenai colorless yang terjadi pada panggung peragaan busana, ada yang menunjuk show Miuccia Prada yang menjadi biang keroknya. Karena hampir 10 tahun sejak 1997-2008 model kulit hitam yang terakhir berjalan untuk show Prada adalah Naomi Campbell, sejak saat itu Prada tidak pernah menampilkan model berkulit hitam dalam setiap presentasi koleksinya, Zero Black Model. Miuccia Prada terkenal akan kecintaannya terhadap model-model berwajah dingin khas Eropa Timur seperti Sasha Pivovarova (model favorit saya). Prada yang sering kali menjadi acuan trend, disalahkan atas terjadinya zero black model pada pangung peragaan busana. Sampai pada tahun 2008 Miuccia Prada melakukan gebrakan dengan menampilkan Jourdan Dunn, satu-satunya model kulit hitam yang berlenggok di Peragaan Busana Prada untuk koleksi Fall/Winter 2008. Setelah itu ditahun ini Prada kembali menampilkan 2 model kulit hitam Rose Cordero dan Joan Smalls yang berjalan di runway Prada untuk koleksi Fall 2010. Juga hadirnya Doutzen Kroes, model berkebangsaan Belanda yang bukan 0/zero sized, yang pernah mengatakan "I don't do runway shows, because I don't fit the sample size", yang juga berjalan di runway Prada Fall 2010.

from left to right : Rose Cordero, Joan Smalls and Doutzen Kroes on Prada Runway Fall 2010

What About Asian?


from left to right : Liu Wen, Tao Okamoto, Lakshmi Menon

Kita telah banyak mendengar diskriminasi terhadap model kulit hitam, lalu apa kabar dengan pelaku industri Fashion global yang berasal dari Asia, atau si kulit kuning? Rasanya, nasib model-model dari Asia lebih beruntung, sepertinya, karena belum ada berita beasar mengenai diskriminasi terhadap model dari Asia. Dan orang Asia pun memiliki kontribusi yang bisa dikatakan lumayan besar bagi industri Fashion global. Ada Devon Aoki, Liu Wen, Lakshmi Menon dan Tao Okamoto yang bisa dikategorikan sebagai Top Model. Lalu juga banyak Fashion Designer yang berjaya dikancah internasional seperti Johji Yamamoto, Rei Kawakubo dengan Comme Des Garcons, Issey Miyake, Vera Wang, Anna Sui, Alexander Wang, Thakoon Panicghul, Doo.ri, Phillip Lim dan masih banyak lagi. Di bidang media ada Erika Kurihara Fashion Editor I-D magazine (british based magazine) dan masih banyak lagi dari Asia yang akan menjadi 'the next big thing in Fashion World'. Namun para etnis minoritas lebih berkembang dan maju karirnya di Amerika Serikat ketimbang di Eropa.

from left to right : Vera Wang, Alexander Wang, Erika Kurihara

from left to right : takhoon panicghul, Anna Sui, Doo.ri


Our Local Scene?

Raden Roro by Liquica Anggraini


Lalu bagaimana dengan Indonesia? Walaupun ada beberapa Fashion Designer Indonesia yang mulai go international dan juga Young Fashion Designer yang belajar di Luar Negeri seperti Paris, Milan dan New York yang merintis karir disana, namun belum seberuntung Doo.ri atau Takhoon. Ada nama-nama seperti Liquica Anggraini yang merintis karir di New York yang designnya sudah dipakai oleh beberapa selebritis Hollywood. Untuk Fashion Designer muda yang masih merintis karir di Indonesia seperti Mel Ahyar, Nina Nikicio, Kleting Wigati dengan label KLE, Rama Dauhan dan Dana Maulana dengan label Danjyo/Hyoji, Stella Risa, Jeffrey Tan dan yang lainnya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan mereka, yaitu mengubah paradigma masyarakat Indonesia dalam melihat produk local fashion designer juga seharusnya pemerintah memberi tempat juga perhatian khusus bagi pelaku fashion lokal, karena industri ini juga banyak berkontribusi bagi devisa maupun pemberdayaan pengrajin, pengusaha tekstil dan retail lokal. Yang juga harus dijadikan catatan bagi para Local Fashion Designer adalah dengan membuat produk-produk berkualitas yang harganya lebih ramah dikantong konsumen dan tidak lagi menjadi terlalu eksklusif, sehingga nantinya para pecinta Fashion di Indonesia dapat membeli dan memakai produk-produk (X)SML daripada Zara atau Topshop, dan lebih mencintai Biyan atau Edward Hutabarat ketimbang Marc Jacobs.


Part One by Edward Hutabarat


with love

Trishatara Handayani



Tidak ada komentar:

Posting Komentar